“Tidak ada guru yang gagal mendidik muridnya. Yang ada hanya orang tua yang gagal mendidik anaknya.”

DIRECTOR: Jack Neo
WRITER: Jack Neo and Rebecca Leow
PRODUCER: Chan Pui Yin and Seah Saw Yam
CINEMATOGRAPHER: Ardy Lam
CAST: Jack Neo, Xiang Yun, Huang Yi-liang, Joshua Ang, Shawn Lee, Ashley Leong, Selena Tan, Johnny Ng, Lau Leng Leng, Natalie, Tan Xinyi
Kutipan di atas benar-benar menarik perhatian saya ketika menonton film ini. Jujur saja, biasanya saya tidak sebegitu “loyal” terhadap film drama, tetapi yang satu ini menurut saya benar-benar mengharukan dan menyentuh hati.
I Not Stupid Too (Chinese: 小孩不笨二 / Pinyin: xiǎohái bù bèn èr) adalah sebuah film produksi Singapura berbahasa Mandarin dan Inggris, pertama kali dirilis pada awal tahun 2006 dan merupakan sekuel dari film I Not Stupid (Chinese: 小孩不笨 / pinyin: xiǎohái bù bèn) yang dirilis pada tahun 2002. Disutradarai oleh Jack Neo, film ini mengangkat tema yang sangat umum namun dikemas dengan plot cerita yang unik, yaitu tentang hubungan orang tua dan anak dalam sebuah keluarga. Mungkin saya agak “ketinggalan zaman” karena baru menonton film ini sekarang, bahkan lebih tepatnya baru mengetahui, karena saya “tidak sengaja” menonton channel Celestial Movies pada hari Senin, 31 Agustus 2009. Walaupun begitu, setidaknya saya cukup “bersyukur” bisa mengetahui bahwa ada film ini, daripada tidak sama sekali. Bukankah begitu? =)
Sinopsis
Saya tidak menonton film ini dari awal, mungkin hanya sekitar sepertiga bagian saja. Sorotan utama dalam film ini adalah keluarga dua anak laki-laki berusia 15 tahun dengan taraf ekonomi yang berbeda. Yang “berduit” dan kaya bernama Tom Yeo (Shawn Lee), sedangkan yang agak miskin bernama Lim Chengcai (Joshua Ang). Tom Yeo sendiri mempunyai seorang adik berusia 8 tahun yang bernama Jerry Yeo (Ashley Leong). Keadaan orang tua dan keluarganya yang saling acuh tak acuh juga membuat Jerry merasa “berbeda” dengan teman-teman di sekolahnya.
Masalah mulai muncul ketika ada razia di sekolah, Tom ketahuan membawa sebuah VCD pornografi. Chengcai, temannya, mencoba membela diri dengan mengatakan bahwa menonton VCD porno adalah umum bagi laki-laki. Otomatis sang guru langsung naik darah dan terjadilah insiden baku hantam yang melibatkan Tom dan Chengcai. Karena kejadian ini, akhirnya orang tua dari kedua belah pihak dipanggil oleh sekolah. Setelah serangkaian diskusi, akhirnya tercapai kesepakatan. Chengcai dikeluarkan dari sekolah, sedangkan Tom tidak dikeluarkan tetapi dihukum dengan rotan di depan seluruh siswa sekolah. Karena kejadian “dirotan” ini, sekolah Tom menjadi sorotan media massa dan muncul opini publik mengenai cara mendidik anak yang seharusnya.
Malu dengan keadaan dirinya, terlebih dengan ejekan teman-temannya di sekolah, Tom dan Chengcai akhirnya bergabung dengan gerombolan anak-anak jalanan yang dianggap “senasib” dengan mereka. Sebagai “ujian masuk”, Tom dan Chengcai harus mencuri iPod dari sebuah toko elektronik. Malang bagi mereka, sebab mereka berdua tertangkap oleh dua orang pria yang menyaru sebagai polisi. Kedua pria ini meminta uang jaminan sebesar $2000 sebagai uang tutup mulut. Sekarang Tom dan Chengcai harus memutar otak demi mendapatkan uang yang jumlahnya tidak sedikit itu, atau tamatlah riwayat mereka.
Bagaimana dengan adik Tom, Jerry? Ia juga berjuang keras mendapatkan uang, bagaimanapun caranya, bahkan dengan mencuri. Ia ingin mengumpulkan uang sebanyak $500, karena ayahnya pernah berkata bahwa seseorang harus membayar sebesar jumlah tersebut untuk “membeli” 1 jam waktunya. Nah, dalam kasus ini, sang anak berpikir bahwa jika ia ingin orang tuanya datang ke konser di sekolahnya, ia harus membayar sebesar $500 demi “membeli” 1 jam waktu mereka. Orang tuanya sangat marah ketika mengetahui bahwa Jerry mencuri uang, tetapi kemudian sadar dan terharu ketika mengetahui bahwa ia hanya ingin “membeli” sesaat waktu mereka. Karena kejadian ini, mereka membaca blog milik Tom, dan dari sana mereka mengetahui bahwa keadaan batin anaknya yang satu lagi ini juga tidak lebih baik daripada adiknya.
Kembali ke Tom dan Chengcai. Demi mendapatkan $2000, mereka berdua mencuri kalung emas yang dipakai seorang wanita tua. Menyadari bahwa apa yang mereka perbuat tidak benar, mereka memutuskan untuk mengembalikan kalung tersebut. Sungguh suatu tindakan yang heroik, karena akhirnya mereka toh harus rela dipukuli oleh orang-orang setempat. Ketika insiden pemukulan ini terjadi, handphone Tom jatuh dan tidak sengaja terhubung ke handphone milik ayahnya. Sang ayah sedang di kantor, hendak memulai sebuah presentasi yang sangat penting. Karena teknologi 3G, sang ayah melihat dengan jelas di layar handphone bahwa sang anak sedang dipukuli oleh para warga. Tanpa memedulikan kepentingannya saat itu, ia langsung pergi dari kantor karena ingin menolong Tom.
Sesampai di tempat kejadian, orang tua dan nenek Tom menemui wanita tua yang telah dicuri kalungnya itu. Ayah Tom, tidak ingin anaknya masuk penjara, sampai memohon-mohon kepada si wanita tua agar jangan melaporkan kepada polisi tentang apa yang telah dilakukannya, dan merelakan dirinya sebagai tertuduh jika memang harus demikian adanya. Untungnya si wanita tua cukup berbaik hati ketika mendengar pembelaan sang ayah dan ibu mengenai bagaimana mereka selama ini telah salah mendidik anak-anaknya, sehingga ia tidak melaporkan tentang hal pencurian tersebut, dan memberikan mereka kesempatan kedua untuk memperbaiki diri.
Nasib Chengcai mungkin agak lebih tragis. Sang ayah karena ingin menolong anaknya, malah akhirnya terluka di kepala dan dilarikan ke rumah sakit. Ibunda Chengcai sudah meninggal, sehingga ketika ayahnya sekarat, Chengcai menjadi sadar dengan kebaikan ayahnya selama ini, meskipun sang ayah suka memukuli Chengcai. Chengcai akhirnya memohon kepada kepala sekolah agar ia diterima kembali menjadi murid di sekolah tersebut, tetapi permohonannya sia-sia. Bahkan ia sampai berbohong kepada ayahnya agar ia tidak mengecewakan beliau. Sebagai permintaan terakhir, sang ayah ingin bertemu langsung dengan sang kepala sekolah, karena ia ingin berterima kasih secara langsung. Sang kepala sekolah “terpaksa” berbohong demi ayah Chengcai. Tak dinyana, bahkan di saat sekarat pun, sang ayah dapat mengetahui sebenarnya kepala sekolah telah berbohong. Sang ayah kemudian berkata, “Tidak ada guru yang gagal mendidik muridnya. Yang ada hanya orang tua yang gagal mendidik anaknya.” Sang ayah menasihati Chengcai, jika memang ia suka bela diri, maka jadilah seorang petarung yang handal. Setelah ayahnya meninggal, Chengcai menjadi termotivasi untuk melakukan yang terbaik, dan ia sukses menjadi juara bela diri.
Mengenai dua orang pria yang menyaru sebagai polisi, mereka akhirnya juga tertangkap basah oleh polisi saat ayah Tom menyerahkan uang kepada mereka. Ketika mereka menyadari bahwa uang tersebut adalah uang palsu, sang ayah juga tidak mau kalah berkata, “Kalian pun juga sama-sama palsu.”
Adik Tom, Jerry, juga sangat bahagia karena orang tuanya bersedia menonton pertunjukannya di sekolah.
Kesan/Komentar
Pesan moral dari film ini sebenarnya sangat sederhana, tetapi sangat mendalam. Apalagi di zaman modernisasi dan globalisasi seperti sekarang ini, cara mendidik anak merupakan salah satu tantangan tersendiri. Sebagai orang tua, kita harus peduli terhadap anak dan jangan bersikap individualistis. Peduli juga bukan berarti sok mau tahu urusan anak, tetapi lebih kepada perhatian dan kasih sayang. Film ini adalah salah satu bukti bahwa faktor keluarga sangat penting dalam perkembangan mental dan jiwa seorang anak.
Sumber/Rujukan:
http://en.wikipedia.org/wiki/I_Not_Stupid_Too
http://www.mediacorpraintree.com/instoo/
http://www.imdb.com/title/tt0475179/
http://www.sdaff.org/festival/2006/program_desc.php?program_id=130
sama ya nasib kita
aku juga baru nonton film ini tahunlalu di celestial
aku nangis sampai-sampai bantal yg aku pakai basah +__+
aku pengen beli kasetnya biar bisa nonton berulang-ulang
By: Amy CassiELF on June 27, 2010
at 2:36 pm